Essay “ Pendidikan
Sosial “
KONTAK SOSIAL
– EDUKATIF ANAK DIDIK
Di dalam dunia
pendidikan , kontak sosial merupakan salah satu sarana mencapai hasil
pendidikan yang diharapkan. Anak didik dan sebuah kontak sosial tidak dapat
terlepas satu dengan yang lainnya dalam dunia pendidikan atau sekolah.. Proses
social adalah aspek dinamis dari kehidupan masyarakat , didalamnya terdapat
suatu proses hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lainnya. Proses
hubungan itu dapat berupa interaksi social yang berjalan secara terus menerus
dalam kehidupan sehari- hari.(Abdullah Idi, 2011:
hal 81-83)
Kontak sosial
dapat juga disebut dengan pergaulan sosial, antara pendidik , dan anak didik
yang memungkinkan timbulnya rasa senang dan cinta anak didik dari pendidik atau
sebaliknya. Dalam kontak social , pendidik dapat melakukan observasi terhadap
anak didik secara langsung , untuk memunculkan potensi yang ada pada anak
didik, sedangkan anak didik melalui kontak social tersebut dapat mengetahu
secara langsung apa yang ada pada pendidik , kecintaanya, rasa sosialnya,
dedikasinya, dan lain sebagainya. Saling mengetahui antara pendidik dan anak
didik akan memudahkan usaha bimbingan dan edukasi atau pembelajarannya.
Interaksi
sosial yang bersifat positif dapat
menciptakan terjadinya kerjasama yang pada
akhirnya mempermudah terjadinya asimilasi ( pembauran ) yang itu sangat
dibutuhkan dalam pembelajaran antara pendidik dan anak didik. Selain itu proses
social juga merupakan siklus perkembangan struktur social yang menunjukan
bagaimana prasangka ( prejudice ), diskriminasi dan konflik nilai ( value conflict ) dapat
menjaga dalam batasan yang dapat dikerjakan pada suatu masyarakat dimana bagian
masyarakat itu dapat menjaga hubungan kelompok primer diantara individu –
individu dengan beragam latar belakang seperti pada setiap anak didik yang ada
di sekolah.( Abdullah Idi, 2011: hal 85-88)
Pendidikan
yang sebenarnya itu berlaku didalam interaksi social ialah antara orang dewasa
dengan anak . di dalam kenyataannya kontak atau interaksi tersebut ada yang
bersifat edukatif dan ada pula nonedukatif,, yang bersifat edukatif ialah suruhan
atau perintah dengan tujuan mendidik. Interaksi
edukatif atau kontak edukatif adalah
interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk melaksanakan tujuan
pendidikan dan pengajaran atau lebih dikenal dengan istilah interaksi belajar
mengajar. Interaksi belajar mengajar mengandung suatu arti adanya kegiatan
interaksi dari tenaga pengajar yang melaksanakan tugas mengajar dan adanya anak
didik sebagai warga belajar, dimana dalam interaksi itu pengajar mampu
memberikan dan mengembangkan motivasi serta reinforcement
kepada siswa agar dapat melakukan kegiatan belajar secara optimal. (sardiman,
2001: 1-2). Pengertian lain Kontak social edukatif atau interaksi edukatif
adalah interaksi yang bernilai pendidikan ( Syaiful Bahri Djamarah, 1997: 11).
Di dalam mendidik atau proses pendidikan seorang pendidik harus
mempunyai kewibawaan dan kinerja yang professional sehingga lulusan ( output)
yang dihasilkan benar – benar berkompeten sesuai dengan apa yang diharapkan
atau apa yang menjadi tujuannya.
Pergaulan
adalah kontak langsung antara individu dengan individu lainnya, atau antara
pendidik dan anak didik. Pergaulan atau kontak social ini juga
memungkinkan untuk menimbulkan
pengertian yang mendalam antara tugas pendidik, yang wajib mendidik dan tugas anak
didik yang wajib belajar. Peranan
pendidik dalam kaitannya dengan anak didik tampak bermacam-macam berdasarkan
interaksi atau kontak sosial edukatif yang dihadapinya. Kontak sosial edukatif adalah
interaksi formal dalam proses belajar mengajar di dalam kelas maupun di luar
kelas. Dalam perspektif pedagogik, anak didik memiliki sejumlah potensi yang
perlu dikembangkan melalui proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
Karena anak didik membutuhkan pendidikan
agar anak didik menjadi manusia yang terdidik. Anak didik memiliki
potensi akal yang harus dikembangkan agar menjadi kekuatan sebagai manusia yang
bersusila dan berkecakapan sebagai modal dikehidupan nyata. Maka dalam makalah
ini akan dibahas masalah interaksi edukatif di sekolah, faktor yang
mempengaruhi kualitas pengajaran, prinsip mengajar dan metode mengajar.
Sekolah
dibentuk sebagai sebuah organisasi dalam
arti setiap sekolah ada yang mengajar, ada yang belajar ada yang membersihkan
ruangan, menyediakan makanan atau melakukan berbagai kegiatan sekolah. (Philips
Robinson, 1987:238) sekolah merupakan pusat pembelajaran, yang mana guru
bertindak menjelaskan, dan siswa bertindak belajar. (Dimyati dan Mudjiono,
2006:255) Guru adalah pendidik yang membelajarkan siswa. Dalam usaha
pembelajaran siswa, maka guru melakukan bimbingan, pengorganisasian belajar,
penyajian bahan belajar, dan melakukan evaluasi
Sekolah
dipandang sebagai wadah pertemuan antara guru dengan murid, proses transformasi
nilai-nilai budaya, pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan pengembangan
nilai-nilai budaya. Kehadiran dan keberadaan sekolah sebagai suatu sub si
stem masyarakat yang berfungsi mentransformasikan nilai-nilai dari generasi tua kepada generasi muda bisa dilihat dari berbagai sudut pandang atau pendekatan. Sekolah harus menerima sumber yang cukup, mengkoordinasikan terhadap tuntutan lingkungan, menentukan dan mengimplementasikan tujuan, memperlihatkan solidaritas kesatuan diantara siswa, guru dan, administrator, mempertahankan, memelihara pola motivasi dan kebudayaan iklim sekolah.
stem masyarakat yang berfungsi mentransformasikan nilai-nilai dari generasi tua kepada generasi muda bisa dilihat dari berbagai sudut pandang atau pendekatan. Sekolah harus menerima sumber yang cukup, mengkoordinasikan terhadap tuntutan lingkungan, menentukan dan mengimplementasikan tujuan, memperlihatkan solidaritas kesatuan diantara siswa, guru dan, administrator, mempertahankan, memelihara pola motivasi dan kebudayaan iklim sekolah.
Untuk
mencapai interaksi belajar mengajar dibutuhkan komunikasi antara guru dan
siswa, yang memadukan dua kegiatan, yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan
belajar. Guru perlu mengembangkan pola komunikasi yang efektif dalam proses
belajar mengajar, karena seringkali kegagalan pengajaran disebabkan oleh
lemahnya sistem komunikasi. Terdapat tiga pola komunikasi yang dapat digunakan
untuk mengembangkan interaksi antara guru dan pelajar, yaitu:
1.
Komunikasi satu arah yaitu guru atau pendidik berperan
sebagai pemberi aksi dan pelajar atau anak didik sebagai penerima aksi.
2.
Komunikasi dua arah, komunikasi ini bersifat
interaktif, karena guru dan pelajar dapat berperan sama, yakni saling memberi
dan menerima aksi. Komunikasi ini lebih baik daripada yang pertama, sebab
kegiatan guru dan kegiatan pelajar relatif sama.
3.
Komunikasi banyak arah, komunikasi ini tidak hanya
melibatkan interaksi dinamis antara guru dan pelajar atau anak didik, tetapi
juga melibatkan interaksi dinamis antara pelajar atau anak didik yang satu dan
pelajar yang lainnya.
Kontak sosial edukatif dapat menggunakan pola
komunikasi sebagai transaksi yang dapat menumbuhkan rasa kebersamaan (sense
of colective) anak didik. Rasa kebersamaan merupakan puncak dari merasa
diterima (sense of membership), yaitu perasaan yang dapat menumbuhkembangkan anak
didik. Ketika anak didik merasa diterima, dihormati, dan disenangi dengan
segala keadaan dirinya, maka anak didik cenderung meningkatkan penerimaan
dirinya yang berujung pada tumbuh kembang yang sesuai harapan pendidik.
Beberapa
fungsi kontak sosial edukatif, sebagai berikut:
1. Dapat
mentransfer pengetahuan (kognitif) secara optimal. Hal ini terkait dengan
pengertian yaitu menyangkut penerimaan yang cermat pada isi pesan, ide, atau
gagasan seperti yang dikemukakan oleh pendidik. Ini pennting, oleh karena
kegagalan meneriman isi pesan, ide atau gagasan secara cermat dapat menimbulkan
kesalahpahaman.
2. Memungkin
terjadinya transfer norma (affektif). Hal ini erat kaitannya dengan perubahan
sikap peserta didik. Tidak hanya menyangkut norma-norma tetapi juga menyangkut
kesenangan dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Perasaan senang dapat
meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Dalam hal ini pendidik sebaiknya
bersikap luwes dan humoris. Sebuah survey nasional terhadap 1000 peserta didik
berusia antara 13 – 17 tahun menyebutkan bahwa peserta didik lebih senang
dan tertarik atau lebih menyukai pendidik yang memiliki selera humor
(Santrock, 2004 dalam Kristiandi, 2009).
3. Dapat
mendukung pengetahuan yang diterima anak didik.
4. Mengarahkan
perbuatan atau tingkahlaku anak didik sesuai dengan pengetahuan yang
diterimanya. Ini merupakan titik akhir dari interaksi edukatif.
5. Dapat
meningkatkan atau menciptakan hubungan yang baik. Relasi yang baik antara
pendidik dengan anak didik memungkinkan
pendidik dapat mengetahui kebutuhan peserta didik peserta didik. Dengan
mengetahui kebutuhan anak didik,
pendidik dapat menciptakan iklim kondusif dalam kegiatan belajar mengajar.
6. Sebagai
momentum pengakuan, baik dari pendidik terhadap anak didik maupun dari anak didik lainnya. anak didik membutuhkan pengakuan dari pendidik dan anak
didik sebagai sumber motivasi dalam
belajar. Kenyataannya, tak sedikit anak didik
yang termotivasi atau bergairah dalam belajar bukan hanya karena motivasi
berprestasi tetapi juga karena sokongan sosial. Inilah anak didik yang menampakkan kegairahan belajar
apabila mempunyai interaksi sosial yang akrab dengan pendidik dan teman-teman
sekelas.
Jadi
keberhasilan belajar dan mengajar ditentukan oleh penguasaan pendidik dalam
memahami dan mengenali pola tingkah laku anak didik. Dalam proses interaksi
belajar dan mengajar baik belajar di dalam kelas maupun interaksi di luar kelas
terkadang biasa timbul permasalahan-permasalahan antar kelompok siswa, karena
siswa itu sendiri mempunyai latar belakang yang tidak sama, apabila
permasalahan tersebut dibiarkan maka bukan tidak mungkin akan menghambat proses
belajar dan mengajar karena ketidak harmonisan yang terjadi. Interaksi edukatif
antara pendidik dan anak didik yang diharapkan tercapai dengan optimal apabila
adanya kesadaran pendidik bahwa tugas mulia dalam mengajar dan mendidik anak
didik itu sifatnya koprehensif. Seorang pendidik akan merasa bahagia dan
memiliki kepuasan jika anak didiknya berhasil.
Proses interaksi edukatif ada dua yaitu, pertama, kegiatan pendidik mengajar dengan gayanya sendiri dan kedua, kegiatan murid belajar dengan
gayanya sendiri pula.
Daftar Pustaka
Abdullah Idi ,2011, “ Bahan
Kuliah Sosiologi Pendidikan S1 & S2”, Jakarta: PT Raja grafindo Persada
Alvin L. Bertrand. 1980. Sosiologi (Alih Bahasa Sanapiah S.Faisal) Surabaya: PT.Bina Ilmu
Bauman J.P.
1957, Ilmu Masyarakat Umum, Pengantar
Sosiologi, Terjemahan Soujono, Jakarta: P.T Pembangunan
Djamarah, Saiful Bahri, 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif di Sekolah. Jakarta
: Rineka Cipta. 1997
Sardiman. Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:PT. RajaGrafindo Persada, 2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar