Selasa, 06 Januari 2015

Pendidikan Sosial


Essay “ Pendidikan Sosial “


KONTAK SOSIAL – EDUKATIF ANAK DIDIK
Di dalam dunia pendidikan , kontak sosial merupakan salah satu sarana mencapai hasil pendidikan yang diharapkan. Anak didik dan sebuah kontak sosial tidak dapat terlepas satu dengan yang lainnya dalam dunia pendidikan atau sekolah.. Proses social adalah aspek dinamis dari kehidupan masyarakat , didalamnya terdapat suatu proses hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lainnya. Proses hubungan itu dapat berupa interaksi social yang berjalan secara terus menerus dalam kehidupan sehari- hari.(Abdullah Idi, 2011: hal 81-83)
Kontak sosial dapat juga disebut dengan pergaulan sosial, antara pendidik , dan anak didik yang memungkinkan timbulnya rasa senang dan cinta anak didik dari pendidik atau sebaliknya. Dalam kontak social , pendidik dapat melakukan observasi terhadap anak didik secara langsung , untuk memunculkan potensi yang ada pada anak didik, sedangkan anak didik melalui kontak social tersebut dapat mengetahu secara langsung apa yang ada pada pendidik , kecintaanya, rasa sosialnya, dedikasinya, dan lain sebagainya. Saling mengetahui antara pendidik dan anak didik akan memudahkan usaha bimbingan dan edukasi atau pembelajarannya.
Interaksi sosial  yang bersifat positif dapat menciptakan terjadinya kerjasama yang pada  akhirnya mempermudah terjadinya asimilasi ( pembauran ) yang itu sangat dibutuhkan dalam pembelajaran antara pendidik dan anak didik. Selain itu proses social juga merupakan siklus perkembangan struktur social yang menunjukan bagaimana prasangka ( prejudice ),  diskriminasi  dan konflik nilai ( value conflict ) dapat menjaga dalam batasan yang dapat dikerjakan pada suatu masyarakat dimana bagian masyarakat itu dapat menjaga hubungan kelompok primer diantara individu – individu dengan beragam latar belakang seperti pada setiap anak didik yang ada di sekolah.( Abdullah Idi, 2011: hal 85-88)
Pendidikan yang sebenarnya itu berlaku didalam interaksi social ialah antara orang dewasa dengan anak . di dalam kenyataannya kontak atau interaksi tersebut ada yang bersifat edukatif dan ada pula nonedukatif,, yang bersifat edukatif ialah suruhan atau perintah dengan tujuan mendidik. Interaksi edukatif atau kontak edukatif  adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk melaksanakan tujuan pendidikan dan pengajaran atau lebih dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar. Interaksi belajar mengajar mengandung suatu arti adanya kegiatan interaksi dari tenaga pengajar yang melaksanakan tugas mengajar dan adanya anak didik sebagai warga belajar, dimana dalam interaksi itu pengajar mampu memberikan dan mengembangkan motivasi serta reinforcement kepada siswa agar dapat melakukan kegiatan belajar secara optimal. (sardiman, 2001: 1-2). Pengertian lain Kontak social edukatif atau interaksi edukatif adalah interaksi yang bernilai pendidikan ( Syaiful Bahri Djamarah, 1997: 11).
Di dalam mendidik atau proses pendidikan seorang pendidik harus mempunyai kewibawaan dan kinerja yang professional sehingga lulusan ( output) yang dihasilkan benar – benar berkompeten sesuai dengan apa yang diharapkan atau apa yang menjadi tujuannya.
Pergaulan adalah kontak langsung antara individu dengan individu lainnya, atau antara pendidik dan anak didik. Pergaulan atau kontak social ini juga memungkinkan  untuk menimbulkan pengertian yang mendalam antara tugas pendidik, yang wajib mendidik dan tugas anak didik yang wajib belajar. Peranan pendidik dalam kaitannya dengan anak didik tampak bermacam-macam berdasarkan interaksi atau kontak sosial edukatif yang dihadapinya. Kontak sosial edukatif adalah interaksi formal dalam proses belajar mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas. Dalam perspektif pedagogik, anak didik memiliki sejumlah potensi yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Karena anak didik membutuhkan pendidikan  agar anak didik menjadi manusia yang terdidik. Anak didik memiliki potensi akal yang harus dikembangkan agar menjadi kekuatan sebagai manusia yang bersusila dan berkecakapan sebagai modal dikehidupan nyata. Maka dalam makalah ini akan dibahas masalah interaksi edukatif di sekolah, faktor yang mempengaruhi kualitas pengajaran, prinsip mengajar dan metode mengajar.
Sekolah dibentuk sebagai sebuah organisasi  dalam arti setiap sekolah ada yang mengajar, ada yang belajar ada yang membersihkan ruangan, menyediakan makanan atau melakukan berbagai kegiatan sekolah. (Philips Robinson, 1987:238) sekolah merupakan pusat pembelajaran, yang mana guru bertindak menjelaskan, dan siswa bertindak belajar. (Dimyati dan Mudjiono, 2006:255) Guru adalah pendidik yang membelajarkan siswa. Dalam usaha pembelajaran siswa, maka guru melakukan bimbingan, pengorganisasian belajar, penyajian bahan belajar, dan melakukan evaluasi
Sekolah dipandang sebagai wadah pertemuan antara guru dengan murid, proses transformasi nilai-nilai budaya, pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan pengembangan nilai-nilai budaya. Kehadiran dan keberadaan sekolah sebagai suatu sub si
stem masyarakat yang berfungsi mentransformasikan nilai-nilai dari generasi tua kepada generasi muda bisa dilihat dari berbagai  sudut pandang atau pendekatan. Sekolah harus menerima sumber yang cukup, mengkoordinasikan terhadap tuntutan lingkungan, menentukan dan mengimplementasikan tujuan, memperlihatkan solidaritas kesatuan diantara siswa, guru dan, administrator, mempertahankan, memelihara pola motivasi dan kebudayaan iklim sekolah.
Untuk mencapai interaksi belajar mengajar dibutuhkan komunikasi antara guru dan siswa, yang memadukan dua kegiatan, yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan belajar. Guru perlu mengembangkan pola komunikasi yang efektif dalam proses belajar mengajar, karena seringkali kegagalan pengajaran disebabkan oleh lemahnya sistem komunikasi. Terdapat tiga pola komunikasi yang dapat digunakan untuk mengembangkan interaksi antara guru dan pelajar, yaitu:
1.      Komunikasi satu arah yaitu guru atau pendidik berperan sebagai pemberi aksi dan pelajar atau anak didik sebagai penerima aksi.
2.      Komunikasi dua arah, komunikasi ini bersifat interaktif, karena guru dan pelajar dapat berperan sama, yakni saling memberi dan menerima aksi. Komunikasi ini lebih baik daripada yang pertama, sebab kegiatan guru dan kegiatan pelajar relatif sama.
3.      Komunikasi banyak arah, komunikasi ini tidak hanya melibatkan interaksi dinamis antara guru dan pelajar atau anak didik, tetapi juga melibatkan interaksi dinamis antara pelajar atau anak didik yang satu dan pelajar yang lainnya.

Kontak sosial edukatif dapat menggunakan pola komunikasi sebagai transaksi yang dapat menumbuhkan rasa kebersamaan (sense of colective) anak didik. Rasa kebersamaan merupakan puncak dari merasa diterima (sense of membership), yaitu perasaan yang dapat menumbuhkembangkan anak didik. Ketika anak didik merasa diterima, dihormati, dan disenangi dengan segala keadaan dirinya, maka anak didik cenderung meningkatkan penerimaan dirinya yang berujung pada tumbuh kembang yang sesuai harapan pendidik.

Beberapa fungsi kontak sosial edukatif, sebagai berikut:
1.     Dapat mentransfer pengetahuan (kognitif) secara optimal. Hal ini terkait dengan pengertian yaitu menyangkut penerimaan yang cermat pada isi pesan, ide, atau gagasan seperti yang dikemukakan oleh pendidik. Ini pennting, oleh karena kegagalan meneriman isi pesan, ide atau gagasan secara cermat dapat menimbulkan kesalahpahaman.
2.     Memungkin terjadinya transfer norma (affektif). Hal ini erat kaitannya dengan perubahan sikap peserta didik. Tidak hanya menyangkut norma-norma tetapi juga menyangkut kesenangan dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Perasaan senang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Dalam hal ini pendidik sebaiknya bersikap luwes dan humoris. Sebuah survey nasional terhadap 1000 peserta didik berusia antara 13 – 17 tahun menyebutkan bahwa peserta didik lebih senang dan tertarik atau lebih menyukai pendidik yang memiliki selera humor (Santrock, 2004 dalam Kristiandi, 2009).
3.       Dapat mendukung pengetahuan yang diterima anak didik.
4.  Mengarahkan perbuatan atau tingkahlaku anak didik sesuai dengan pengetahuan yang diterimanya. Ini merupakan titik akhir dari interaksi edukatif.
5.    Dapat meningkatkan atau menciptakan hubungan yang baik. Relasi yang baik antara pendidik dengan anak  didik memungkinkan pendidik dapat mengetahui kebutuhan peserta didik peserta didik. Dengan mengetahui kebutuhan anak  didik, pendidik dapat menciptakan iklim kondusif dalam kegiatan belajar mengajar.
6.     Sebagai momentum pengakuan, baik dari pendidik terhadap anak  didik maupun dari anak  didik lainnya. anak  didik membutuhkan pengakuan dari pendidik dan anak  didik sebagai sumber motivasi dalam belajar. Kenyataannya, tak sedikit anak  didik yang termotivasi atau bergairah dalam belajar bukan hanya karena motivasi berprestasi tetapi juga karena sokongan sosial. Inilah anak  didik yang menampakkan kegairahan belajar apabila mempunyai interaksi sosial yang akrab dengan pendidik dan teman-teman sekelas.

Jadi keberhasilan belajar dan mengajar ditentukan oleh penguasaan pendidik dalam memahami dan mengenali pola tingkah laku anak didik. Dalam proses interaksi belajar dan mengajar baik belajar di dalam kelas maupun interaksi di luar kelas terkadang biasa timbul permasalahan-permasalahan antar kelompok siswa, karena siswa itu sendiri mempunyai latar belakang yang tidak sama, apabila permasalahan tersebut dibiarkan maka bukan tidak mungkin akan menghambat proses belajar dan mengajar karena ketidak harmonisan yang terjadi. Interaksi edukatif antara pendidik dan anak didik yang diharapkan tercapai dengan optimal apabila adanya kesadaran pendidik bahwa tugas mulia dalam mengajar dan mendidik anak didik itu sifatnya koprehensif. Seorang pendidik akan merasa bahagia dan memiliki kepuasan jika anak didiknya berhasil.  Proses interaksi edukatif ada dua yaitu, pertama, kegiatan pendidik mengajar dengan gayanya sendiri dan kedua, kegiatan murid belajar dengan gayanya sendiri pula.


Daftar Pustaka

Abdullah Idi ,2011, “ Bahan Kuliah Sosiologi Pendidikan S1 & S2”, Jakarta: PT Raja grafindo Persada
Alvin L. Bertrand. 1980. Sosiologi (Alih Bahasa Sanapiah S.Faisal) Surabaya: PT.Bina Ilmu
Bauman  J.P. 1957, Ilmu Masyarakat Umum, Pengantar Sosiologi, Terjemahan Soujono, Jakarta: P.T Pembangunan
Djamarah, Saiful Bahri, 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif di Sekolah. Jakarta :  Rineka Cipta. 1997
Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:PT. RajaGrafindo Persada, 2001




Tidak ada komentar:

Posting Komentar